sabtu pagi yang kuawali dengan mereguk nikmat telaga cahaya. sabtu ini indah sekali, ketika hari cerah, angin semilir sejuk dan awan-awan putih silih berganti memayungi memberi teduh. aku menghabiskan seperempat hariku bersamanya, seorang gadis kecil berusia 9 tahun yang sangat cantik.. dia dipanggil Sofia. ketika aku datang, sambut meriahnya telah merebak diujung pintu. wajahnya yang sumringah, matanya terbuka lebar dengan tawa yang renyah. rambut sebahunya bergerak-gerak bertiupkan angin. berlari menujuku yang juga semakin rindu. cantik sekali dirimu, sayang... "mbaakk sini, aku punya hadiah!" begitu katanya ceria merangkul kuat pinggangku seraya menarik memasuki teras. tak lama kau keluar dengan membawa sebuah gelang yang bertuliskan namaku. gelang khas anak-anak yang dirangkai perhuruf dijual oleh pedagang kaki lima malioboro. aku tertawa geli sekaligus tersentuh, ribuan terimakasih kuucapkan dalam hati. hari sabtu ini aku menemaninya bermain melihat...
Senja itu mulai menggelap dan hujan baru saja reda, menyisakan tetesan air dari genting yang basah. Sore itu kau nampak sendu, berwajah duka durjana seperti tak punya darah. Pucat. Aku mendekatimu, duduk di sebelahmu. Kau dan aku, hanya tetap terdiam menatap halaman parkir yang mulai kosong. Lembayung memang membawa romantisme tersendiri bagi komplek gedung ini. ... " Banyu..." katamu memecah kebisuan " Ya..." hanya begitu jawabku, masih lurus memandang ke depan. ah.. mungkin memang tatapan mata tak pernah benar-benar kita butuhkan (saat ini). Aku tahu isi hatimu, aku dapat merasakan getaran kegelisahanmu. Lama... Kutunggu tak juga kau melanjutkan apa yang ingin kau katakan. Samar, ku dengar tarikan nafasmu yang panjang dan berat. ada apa gerangan ? Tapi aku mengerti, Kau selalu begitu Langit, Setiap kali kesedihan melandamu, kau selalu bertapa dalam diam, menangispun tidak. Terkadang aku tergoda untuk bertanya, ada apa sebenarnya. Namun aku ta...
akhir akhir ini pun aku gelisah bukan main, aku berpikir bagaimana caranya meredam gelisah untuk bersabar menunggu aku tak tahu dan lebih tepat tak menyangka bahwa rasa ini bagai raksasa dan hatiku terasa sempit pun tak sanggup menampungnya. akhir akhir ini akupun merasa tak tenang, segala hal menjadi nampak tak menarik tanpa ada wujudmu segala hal menjadi senyum saat ada kemaujudanmu dan aku gelisah, aku merasa terjebak dalam ke-materi-an sebuah nama jika rasa adalah anugerahNya, kasih sayangNya, yang kurasa justru sebuah siksaan yang nyata dari sebuah kata "menunggu" bahkan menanti 20 malam pun bagiku terasa begitu menggelisahkan hingga terkadang embun embun keruh mengalir diantaranya apakah aku keliru ? apakah aku telah melewati batasnya ? dan aku memilih untuk tetap terdiam, mendoakan, dan terus menjaga dalam dada sebuah nama. namun aku tahu Dia jauh lebih Tahu aku tak berani mendektekan nama itu, menjejalkannya dalam kitab aku hanya percaya, percay...
Komentar
Posting Komentar