Postingan

Menampilkan postingan dengan label dongeng

Doa yang Ia menangkan

Sore yang teduh mengantarkan senja berlalu Gadis di seberang jalan itu berdiri menanti kendaraan berlalu lalang. Jilbabnya berkibar ringan Pesannya dua hari lalu : "Aku pingin ketemu, ngobrol-ngobrol" Aku sudah menunggunya di seberang jalan sejak 15 menit yang lalu sambil menanti antrian tempat duduk kafe yang masih ramai. "Udah lama ?" Belum jawabku dengan menggeleng. Dia menarik tanganku mencari bangku kosong Percakapan basa-basi mulanya. Menanyakan kabar, kegiatan, beberapa teman yang saling kenal. "Aku mau nanya..." akhirnya. Katanya menggantung menanti persetujuan Lalu aku mengangguk "Kenapa kamu menolak dia ?" Menolak ? Ohh yang benar saja... ini yang ingin dia bahas. Tak lama pesanan datang dan kami mulai makan. Dan pikiranku beterbangan tentangmu. Bagaimana harus kujelaskan keadaan kita ? Mungkin terasa ganjil gadis itu, Kita Dua orang yang saling menginginkan, melewati masa indah bernama saling jatuh cinta, merasak...

hujan, telaga dan buku tak bernama

Sore yang syahdu Hujan semenjak matahari meninggi tadi telah ramai membasahi tanah Di sebalik jendela aku membuka-buka halaman demi halaman buku tak bernama Mencari catatan apa yang kiranya dapat ku tuliskan ulang untuk menemani hujanku yang sepi. Tiap lembarannya, Tak bercelah, Semua catatan itu tentang kita. Tentang langit, banyu, hujan, cahaya, rembulan dan secangkir coklat panas. Tak berjeda. Langit, Banyu, Telaga ini mungkin berubah... Mungkin telaga itu tak serupa dengan apa yang selama ini aku ceritakan. Tentang telaga yang tenang, dalam dan diam. Mungkin dulu aku berpikir dia berair kebiruan, Atau dia menyimpan beberapa kano tua yang berharga di ujung dermaga kayunya dan memuat buku-buku sejarah dunia untuk dibaca saat hari cerah. Mungkin, Dan mungkin bayangan itu akan berbeda. Telaga kita, Mungkin akan berair bening, yang warnanya selalu berganti memantulkan cahaya matahari. Tenang dan mengapungkan rakit-rakit sederhana yang kuat, Membiarkan bebera...

senyum

aku pernah bertanya padamu. saat kau termenung menatap senja di bangku biasa kita duduk menanti reda hujan. dan seperti biasa, halaman parkir mulai kosong dan lampu-lampu mulai redup menyala. "apa yang sedang kau pikirkan, Langit ?" agak lama kau menjawab, masih tercenung menatap langit bercahaya. "aku sedang berandai-andai." katamu tanpa merenggangkan tanganmu yang saling menggenggam. "tentang ?" "aku berandai, jika tubuhku dapat diubah menjadi suatu gelombang. Maka aku ingin mengalir ke masa depan" "apa yang ingin kau lihat di masa depan ?" "kita. aku ingin tahu takdir kita." "aku juga ingin tahu, tapi bukan dengan cara itu." "lalu ?" "aku akan menunggu." "kau tersenyum ?" katamu saat melihatku "ya...aku akan menunggu, menjemput takdir itu dengan cara yang memang telah Dia rencanakan untuk kita" aku balas menatapmu. tersenyum. kau balas senyum. ...

Banyu layar, dermaga Langit

Gambar
selamat malam, Langit aku sudah membaca surat elektronikmu. baru saja, petang tadi selepas maghrib. sebenarnya aku telah menerimanya semenjak pagi, namun aku menunda diri untuk membacanya. ya, terlalu lama kita tak saling menyapa, dan aku butuh mempersiapkan diriku untuk membaca suratmu yang tak bisa kuterka isinya. sejujurnya, kedatangan suratmu -entah- seperti angin musim semi tiba-tiba dan sejukkan dada. ada ucapan puji yang ku ulang berkali. kau menulis suratmu seperti tanpa beban, seperti tak terjadi apapun. kau seperti biasa, bercerita dengan lancar dan bernada bahagia. ya, paling tidak seperti itulah yang kubayangkan saat membaca suratmu. dan itu membuatku tersenyum. kau... bagaimana bisa... Langit, sungguhkah kau tak apa ? aku telah meninggalkanmu tanpa satupun pesan untuk sekian lama. aku tak menghubungimu, tak merespon semua pesanmu, hingga nampaknya kau jengah. tidakkah kau merasa sakit padaku ? paling tidak, menanyakan kenapa ? namun hal itup...

Kepastian Langit

Gambar
Banyu,  Para perempuan itu merintihi kekasih mereka Menangisi dan merasa kecewa. Pada lelaki yang mengaku mereka  -memiliki sebuah rasa-. Banyu, mereka sedang bicarakan tentang kepastian. Ya, kepastian. ... Dia bicara perempuan menyukai kepastian, kejelasan atau apalah disebutnya. Aku tak begitu tahu, bentuk apakah kepastian yang mereka harapkan itu. Is it a statement ? Symbol, just like a ring on her finger ? Or something else ? Lalu Banyu, Apakah kau juga berpikir akan memberiku kepastian ? seperti yang dirintihkan perempuan itu ? ... Banyu... tarik sejenak nafasmu... Bagiku, kau tak perlu berbuat apa-apa itu. Aku yakin dengan rasaku, dan itu cukup. Sedangkan tentang kepastian, Bukankah tidak ada yang pasti di dunia ini, Banyu ? Hanya takdir milikNya lah satu-satunya yang berhak atas kata pasti. Bagaimana bisa aku menumpu padamu yang tak pasti sedangkan janjiNya adalah pasti ? So I don’t need your words now, e...

untuk Banyu, ps. waktu

Banyu, aku membaca tulisanmu di koran hari ini. ya seperti yang sudah kita sepakati bahwa kita akan menciptakan spasi yang bisa jadi akan memisahkan kita atau menghubungkan kita (lagi) maka yang ku lakukan hanyalah "gambling" mencarimu. berharap-harap jika sekali lagi tulisanmu dimuat di surat kabar itu. ini sulit bagiku, karena kita terbiasa bicara, saling bicara dan tiba-tiba saja aku tak punya teman bicara. air telagamu tak lagi mengaliri tanahku dan aku merasa kemarau mengunjungi ladang Banyu, kau seperti biasa, mengagumkan bagiku dan tulisanmu hari ini aku suka. kau bicara tentang sebuah satuan waktu. sesuatu yang pernah sekedar ku dengar suatu hari yang lalu. namun tulisanmu mengupasnya dengan cantik, mengalir dan dalam. kau benar-benar selayak telaga. waktu, kestabilan hukum di dunia ini. waktu bergerak dengan konstan, ritmik dan reguler. tak pernah terlambat, tidak semakin penjang atau pendek. namun manusia yang terikat dalam hukum waktu ini se...

Banyu.Jeda.Langit

Gambar
selamat pagi Langit langit pagi ini cerah ya ? apakah secerah hatimu ? aku tak tahu, hanya berharap begitu adanya. ya, sudah lama kita tak bersua, bahkan tak juga bersapa. sejak obrolan kita hari itu kita tak lagi saling menghubungi. Langit, kata-katamu ada benarnya juga. lagi lagi tentang empat huruf K.I.T.A meski kau selalu mengawalinya dengan berkisah tentang buku yang baru kau baca. atau pelajaran yang baru kau dapat. atau juga kegelisahanmu setelah membaca koran. dan aku selalu merindukan momen kita saling bicara. karena mungkin bagiku, itulah inti dari apa yang kita bangun. dan itu juga yang mempertahankan kita . bicara. ... kau berkata bahwa manusia itu makhluk dinamis, berbeda dengan makhluk Tuhan yang lain yaitu malaikat dan setan kau  bilang, kau membacanya dari buku gurumu yang kau datangi setiap sebulan sekali. setan adalah makhluk statis, dimanapun dia berada bahkan di dalam rumah ibadah sekalipun dia akan menggoda manusia. begitupun dengan ma...

Rasa yang Menjagamu

Gambar
Aku tak bisa melupakan hari itu. Hari ketika pertama kalinya kau mencairkan kristal hatimu. "aku mulai meragukan tentang kita" katamu seketika.  Dan membuatku langsung menutup buku kuno yang sedang kubaca. Ruang diskusi perpustakaan yang senyap ini seakan riuh dengan keresahanmu, kita. "ada apa ?" tanyaku sedikit terkejut "aku ragu..." katamu lagi dengan suara mulai melemah. Kau menundukkan kepala, menyembunyikan mata yang mungkin kau takut terbaca. "kau meragukanku ?" tanyaku lagi ... lama jawabmu, Kau sungguh membuatku cemas... "bukan...tapi...aku meragukan diriku sendiri..." kali ini sungguh aku melihat air mata itu mengalir. "aku meragukan diriku..." katamu mengulangi. Jujur saja, baru kali ini kau menangis, dan aku sedikit kaku juga bingung harus berkata apa.. Dan tangisanmu belum berhenti. Sembari mengusap airmata kau berjalan menuju jendela,  membuka daun pintu yang mengalirkan angin,  mengibarkan ...

menjaga langit

Gambar
Senja itu mulai menggelap dan hujan baru saja reda, menyisakan tetesan air dari genting yang basah. Sore itu kau nampak sendu, berwajah duka durjana seperti tak punya darah. Pucat. Aku mendekatimu, duduk di sebelahmu. Kau dan aku, hanya tetap terdiam menatap halaman parkir yang mulai kosong. Lembayung memang membawa romantisme tersendiri bagi komplek gedung ini. ... " Banyu..." katamu memecah kebisuan " Ya..." hanya begitu jawabku, masih lurus memandang ke depan. ah.. mungkin memang tatapan mata tak pernah benar-benar kita butuhkan (saat ini). Aku tahu isi hatimu, aku dapat merasakan getaran kegelisahanmu. Lama... Kutunggu tak juga kau melanjutkan apa yang ingin kau katakan. Samar, ku dengar tarikan nafasmu yang panjang dan berat. ada apa gerangan ? Tapi aku mengerti, Kau selalu begitu Langit, Setiap kali kesedihan melandamu, kau selalu bertapa dalam diam, menangispun tidak. Terkadang aku tergoda untuk bertanya, ada apa sebenarnya. Namun aku ta...

prolog Puan

apakah kau perempuan ? perkenalkan, namaku Perempuan. panggil aku Puan. sejak kecil orang disekitarku memanggilku den Puan karena kakek buyutku adalah bangsawan pada masanya. aku Puan. hidup dalam keluarga besar bersama kakek nenek dan kedua orang tuaku serta tinggal di kampung yang hampir semua punya nasab saudara. sebagai keluarga jawa, aku dididik menjadi "perempuan" yang seutuhnya. Mereka mengajariku memasak, menyiapkan meja makan, membuat kudapan untuk pagi dan sore hari dan juga bagaimana membagi menu untuk tiap anggota keluarga. tentu saja porsi dan jatah mereka semua berbeda. dalam dunia para perempuan ini -aku, nenek, ibu- ada satu prinsip yang tak akan pernah dilanggar dalam hal apapun.yaitu laki-laki untuk dilayani, tak peduli siapa dia, tapi dia berhak mendapat layanan sesuai kadarnya. kakekku yang seorang guru sangat disegani tak hanya di luar sana tapi juga di rumah. ia memiliki kamar yang paling besar, memiliki gelas khusus yang ukurannya besar, piring...