Postingan

Seumur Hidup

Pagi ini membuka mata. Menemukan pesan istimewa. Dari dia tentu saja. Dua kepala dan dua kepribadian. Dua keluarga dan dua pendidikan. Dua motivasi dan satu tujuan. Kira-kira begitu. Dua yang menjadi satu bersama. Berteman dengan dinamika. Jiwa, dunia, usia. Aku belajar. Kamu belajar. Kita belajar untuk terus dan terus dan terus untuk saling. Saling bergandengan dengan semua dinamika. Belajar seumur hidup. Menggandeng tanganmu sampai sisa umurmu. Kau gandeng tanganku sampai sisa umurku. Entah siapa yang akan melepas lebih dulu.

Ulang Tahun Termanis (First love part 1)

My first love... Hari ulang tahunku... Dua belas dua belas yang ke tiga belas. Hari itu seperti hari biasa saja. Kecuali perasaan senang saat membuka mata di pagi hari. karena aku semakin dewasa. Dewasa. Adalah kosa kata yang terus terus terngiang di telingaku. Seolah meminta dikejar secepat kilat. Karena aku ingin segera menjadi dewasa. Siang hari sepulang sekolah, Sepucuk surat diantar oleh bapak kepala dukuh. " kepada : dik Annisa Ratnaningrum ...... " Untukku kah ? Lalu kubalik surat itu dengan berdebar. Kemudian tiba-tiba dadaku sesak, seperti terisi begitu banyak udara. Kupandangi dan kubaca perlahan. Surat ini berasal darinya. Tulisan tangan ini tak bisa diragukan lagi. Langkahku menjadi ringan, berjalan pin seolah melompat. Berlari apalagi... Saat mendebarkan adalah ketika membuka surat itu. Seekor tikus yang lucu, berjalan diatas bumi yang kecil, memakai topi kerucut dan kedua tangannya mengusung sebiah nampan berisi kue ulang tahun yang bertump...

Nyanyian Magic

Sekali lagi ini tentang mimpi. haai selamat datang.. my new life ( I wish) ketika menulis ini sebagian dari diri saya terhanyut pada masa-masa SMA. ketika itu, musim buku Abang Andrea Hirata merajalela. termasuk saya. yang terbuai dengan semangat yang sendu untuk bermimpi setinggi-tingginya. tidak takut dan terus berharap. menyempatkan waktu berlama-lama untuk ditemani buku tulis dan pena, menuliskan mimpi dan harapan masa depan. itu, lebih dari 5 tahun yang lalu. bahkan sebenarnya mendekati angka 10 tahun yang lalu. saya senang masih mengingatnya. juga saya senang masih dapat merasakan debaran jantung saya saat hujan datang dan berlarian mengejar bis kota, berlomba dengan matahari senja sebelum ia tenggelam. sekarang disaat saya menulis, saya pun masih teringat, ketika laskar pelangi di filmkan.. lalu, muncullah soundtrack yang menggetarkan ituu... saya jadi teringat, disaat matahari belum tinggi dari meredian dan ketika mereka akan kembali bercumbuan. ketika melangkah...

Senja Kembali

Selamat petang Banyu. Senja sudah lewat baru saja. Matahari bulat merah yang menyentuh atap-atap rumah dan gedung tinggi itu tenggelam bersama desiran rasa dalam dada. Senja sudah berlalu Banyu. sama seperti berlalunya kamu. dulu. sejenak dan mengerat kuat. Malam ini sepertinya cerah bulan oktober belum membawa rintik hujan. hujan yang pernah mengurung kita untuk saling bicara. Banyu. sesekali kamu masih muncul dalam memoriku. sekilas. sekelebat. sejenak. lalu hilang kemudian untuk bertandang lagi kapan-kapan. Sesukamu. Sesuka hatimu. Senja tadi, Banyu. membuat aku kembali bertanya-tanya. kuasa Tuhan yang bagaimanakah yang akan mempertemukan kita. Mengapa begitu banyak manusia seperti kita. yang enggan kembali meski sebenarnya tak pernah benar-benar beranjak pergi. Kamu selalu begitu kan, Banyu.

Rasa Baru

Assalamu'alaikum, Dear Banyu, Hari ini diawali dengan pagi berkabut nan dingin Aku membuka jendela pagi ini dengan malas. Langit nampak mendung dan fajar pagi tak nampak. Tapi aku tetap harus beranjak pagi benar. Seseorang dan beberapa lainnya telah menantiku di kota seberang. Selepas shubuh aku berangkat. Angin dingin ramai sekali menyelip disela-sela cardigan tipisku. Tapi pagi ini tetap pagi seperti biasa bukan, Banyu ? Pagi seperti biasanya ketika matahari hendak terbit, sembahyang dan mandi dengan air seperti es. Seperti biasanya, Kecuali, aku sudah melewatkan beberapa malam ini tanpamu. Cerita harian juga seperti biasanya. Tentang presiden yang tidak salah satupun kita idolakan. Tentang ricuh perang di Ghaza yang sedang marak kembali. Tentang Ayahku yang kemarin biasa-biasa saja. Tentang nenekku yang setiap pagi membangunkan seisi rumah dengan suaranya yang lantang, namun menangis meringkuk kesepian menjelang mata terpejam. Atau tentang bangun siangku...

Temaram

Seorang lelaki, Yang membawa minyak bercahaya temaram. Ketika petang selepas senja tenggelam. Sendiri, duduk di tepian dermaga. Mendekap erat lampu minyaknya yang menyala temaram. Angin dingin berhembus, Membelai sela-sela rambutnya yang ikal dan halus. Matanya yang jernih dan bening Memandang jauh pada ujung danau Menembus kabut samar yang mengambang di permukaan. Mendekap erat lampu minyaknya yang menyala temaram. Sesuatu ia rindukan. Sesuatu di tempat yang jauh. Yang tak kan bisa teraih kembali. Ia rindukan suatu hangat Yang membelainya semenjak ia tak bernama. Bahunya yang tegak melengkung, Melipatkan erat kedua tangannya saat hawa dingin tiba. Ia masih disana, Duduk di tepian dermaga kala petang, selepas senja tenggelam. Temaram, Hatinya temaram, Ia kedinginan, namun ada kehangatan di dalam. Senyumnya temaram, Tatapannya temaram, Menentramkan.

memori tuan melankolis

Dalam perjalanan, aku bertemu dengan tuan melankolis. Bahkan kami enggan berpisah sehingga membawa kami pada sebuah kafe nyaman. Ada cerita yang ku bawa pulang. ... Menjadi bagian dari melankolis kadang dianggap lemah. Mengingat dan menyimpan dengan baik kenangan. Dan aku rasanya tak perlu menjadi ini dan itu untuk menyimpan kenangan. Alamiah saja, setiap orang dengan otomatis dapat mengingat kejadian. Tak mengapa, Jika kau terus saja ada dan berkeliaran di kepalaku. Dalam ingatan. Dan mungkin beberapa kali dalam mimpi buruk. Memang manusia memiliki otak dan ingatan. Lalu kenapa harus dipaksakan untuk dilupakan ? Jika memang pernah ada dalam hidup - dan menjadi bagian dari cerita perjalanan. Mengapa harus melompati kronologis yang sudah berurutan dengan melupakan ? Seperti negative film yang terpotong di bagian tengahnya. Bukankah justru merusak jalan cerita ? Karena hidup tak bisa mengedit masa lalu, sehingga memotong slide cerita akan memutuskan alurnya. Ingin m...